Kepingan Hati

Saat Hati Tak Tahu Apa yang Hilang

Pernahkah kamu merasa ada yang retak di dalam diri, tapi tak tahu pasti apa yang sebenarnya hilang? Bukan hanya perasaan yang pecah kadang, kepercayaan, harapan, bahkan bagian dari diri sendiri ikut lenyap tanpa suara. Kita duduk sendiri, memeluk lutut dalam diam, mencoba memahami apa yang salah… tapi semuanya terasa kabur. Pada saat seperti itu, kesedihan sering kali tak berbentuk, hanya terasa berat di dada.


Ketika Luka Tak Bisa Diucapkan

Seiring waktu, kita pun belajar menyembunyikan luka. Berpura-pura tersenyum, padahal hati menyimpan kecewa, cinta yang tak selesai, atau rindu yang tak pernah pulang. Sayangnya, tidak semua bisa diungkapkan lewat kata-kata. Oleh karena itu, banyak hal akhirnya kita pendam sendiri—bukan karena kuat, tapi karena tak tahu harus mulai dari mana. Dalam diam, kita terus membawa beban yang tak terlihat oleh siapa pun.


Menemukan Suara Lewat Tulisan

Namun, perlahan… ada satu cara yang bisa membuka ruang itu: menulis. Ketika mulut tak sanggup bicara, tulisan bisa menjadi suara hati yang jujur. Satu kalimat dalam buku harian bisa menjadi awal untuk menyusun kembali diri yang berserakan. Kepingan Hati hadir bukan hanya sebagai kumpulan tulisan, tapi sebagai ruang untuk menyentuh luka-luka kecil yang kita simpan diam-diam. Mungkin, kamu juga sedang mencari bagian dirimu yang pernah hilang.

Leave a Reply