Tidak semua orang merespons luka batin dengan cara yang sama. Dalam teori STIFIn, setiap individu memiliki “mesin kecerdasan” dominan yang memengaruhi cara berpikir, merasa, dan bertindak. Oleh karena itu, memahami karakteristik masing-masing mesin bisa membantu kita atau orang terdekat untuk menyembuhkan luka dengan cara yang lebih tepat dan efektif.
Pertama, mesin Sensing mungkin jarang merasa sangat terluka secara emosional, namun mereka akan mengingat kejadian menyakitkan dengan detail. Untuk bisa pulih, mereka butuh diyakinkan bahwa segalanya bisa membaik. Sementara itu, mesin Thinking cenderung menjaga jarak dari sumber luka dan menilai hubungan yang menyakitkan sebagai sesuatu yang tidak berguna. Namun, mereka perlu diingatkan bahwa kehadiran mereka tetap berarti bagi orang lain. Di sisi lain, mesin Intuiting justru kerap terjebak dalam pikiran akan kemungkinan terburuk. Karena itu, mereka perlu diarahkan untuk menggunakan daya imajinasi mereka dalam membayangkan hal-hal positif.
Selanjutnya, mesin Feeling memiliki sensitivitas tinggi, sehingga lebih rentan mengalami luka batin. Untuk sembuh, mereka memerlukan cinta dan hubungan baru yang memberikan rasa tenang dan damai. Terakhir, mesin Insting bisa sangat trauma saat terluka, karena mereka sangat terhubung dengan rasa aman. Mereka membutuhkan dukungan nyata dari orang-orang terdekat sebagai pondasi penyembuhan. Dengan memahami perbedaan ini, kita bisa lebih empatik terhadap proses pemulihan diri sendiri maupun orang lain.